Pj Wali Kota Kendari Promosikan Budaya Daerah di Pentas Nasional

oleh -11784 Dilihat
Pj Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup saat memperkenalkan budaya Kendari pada Parade Budaya Dekranas di Solo, Jawa Tengah.

Kendari, RadarKendari.com – Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup turut mempromosikan kekayaan daerah hingga dipentas nasional. Teranyar, Yusup memboyong berbagai budaya daerah untuk tampil pada Parade Budaya Dekranas di Solo, Jawa Tengah (Jateng), belum lama ini.

Muhammad Yusup mengungkapkan, pada Parade Budaya yang digelar Deskranas pihaknya menampilkan mobil hias yang didesain menyerupai rumah adat suku Tolaki yakni Laika Aha.

Pj Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup didampingi Ketua Dekranasda Kota Kendari, Ira Willis Kesumadoty menyaksikan Parade Budaya di Solo.

“Mobil hias Kota Kendari sendiri hadir dengan mengusung tema The Ethnical of Kendari City. Tema ini diangkat untuk memperkenalkan kearifan budaya lokal dan hasil kriya dari Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kepada masyarakat luas,” ungkap Muhammad Yusup usai mengikuti Parade Budaya.

Lanjut Yusup menjelaskan, pada bagian depan mobil hias, terdapat Kalosara yang merupakan simbol pemersatu bagi masyarakat suku Tolaki.

Selanjutnya, pada kiri kanan mobil, kata Yusup terdapat logo Dekranasda Kota Kendari. Selain itu, tampak pula alat perang tradisional suku bangsa Tolaki yang disebut Ta’awu (Parang ) dan Kinia (Tameng) yang digunakan oleh para Tamalaki atau Ksatria Tolaki yang berjalan tepat di samping kiri kanan mobil hias, diiringi alunan musik Tawa-Tawa/Karandu (Gong).

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) ini menambahkan, pada bagian atas mobil ditampilkan busana Pengantin Suku Tolaki Babu Nggawi (Wanita) dan Babu Nggawi Langgai (Pria).

“Kita juga tampilkan Busana Penari Mombesara untuk menyambut para tamu agung, serta busana kreasi tenunan motif Pinetobo memiliki makna dari kekuatan, ketaatan, kejujuran serta gotong royong yang harus dimiliki unsur masyarakat baik itu pemerintah, perangkat adat maupun warga masyarakat lainnya untuk mencapai suatu tujuan bersama yakni kesejahteraan masyarakat,” jelas Yusup.

Yusup berharap, berbagai kekayaan budaya daerah yang ditampilkan dalam Parade Budaya Dekranas ini selain bisa memperkenalkan dan mempromosikan budaya daerah ditingkat nasional juga bisa menjadi motivasi bagi pemerintah dan masyarakat untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya daerah.

Kuliner Lokal, Identitas Daerah

Berbagai kegiatan dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-193. Salah satunya dengan menggelar Lomba Mosolori. Lomba ini dilaksanakan di Anjungan Teluk Kendari belum lama ini.

Pj Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup menjadi salah satu juri pada lomba Mosolori yang digelar di Anjungan Teluk Kendari belum lama ini.

Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup mengungkapkan, dalam lomba ini peserta diajak untuk mengolah sagu menjadi makanan pokok lengkap dengan menu tambahan seperti ikan dan sayuran, menggambarkan kekayaan kuliner tradisional daerah.

Lanjut dia, Lomba ini diikuti sebanyak 33 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan 11 Kecamatan lingkup Pemkot.

“Ini menunjukkan antusiasme yang besar dari berbagai pihak untuk ikut serta dalam merayakan perayaan penting bagi kota ini. Para peserta menampilkan kreativitas dan keahlian mereka dalam mengolah bahan makanan lokal menjadi hidangan lezat yang memikat,” kata Yusup.

Yusup berharap, melalui lomba ini, keberadaan dan keunikan makanan tradisional sagu tetap terjaga dan terus dikembangkan oleh masyarakat setempat.

“Dengan Lomba Mosolori, Kota Kendari tidak hanya merayakan usianya yang ke-193, tetapi juga mempromosikan kekayaan budaya dan kuliner tradisionalnya,” kata Yusup.

“Acara semacam ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk mempererat tali persaudaraan antar warga dan melestarikan warisan budaya lokal yang berharga,” tambahnya.

Sekedar informasi, pelaksanaan lomba mosolori diawasi langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari dan Sekretaris Daerah (Sekda) untuk memastikan kelancaran dan kualitas acara.

Mereka menyaksikan dengan seksama berbagai jenis makanan tradisional yang dipamerkan oleh para peserta, memberikan dukungan serta apresiasi atas keberagaman kuliner yang ada di Kota Kendari.

Dewan juri Lomba Mosolori terdiri dari para profesional di bidang kuliner, Tim Penggerak PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga), serta perwakilan dari lembaga adat setempat, seperti Lembaga Adat Tolaki.

Dengan kehadiran juri yang beragam, diharapkan penilaian terhadap kualitas dan keaslian makanan tradisional menjadi lebih komprehensif dan berimbang.

Selain menilai cita rasa dan penyajian makanan, Lomba Mosolori juga memperhatikan proses pembuatan makanan tradisional berbahan dasar sagu, atau yang dikenal sebagai Sinonggi.

Proses ini, yang dalam bahasa setempat disebut mosolori, menjadi bagian penting dalam menjaga keaslian dan keberlanjutan kuliner tradisional di Kota Kendari.

Dedikasi Yusup Melestarikan Budaya dan Adat Istiadat Kendari

Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup menerima gelar kebangsawanan dari Kerajaan Solo, belum lama ini. Penghargaan diberikan karena Yusup dinilai berdedikasi dalam melestarikan budaya dan adat istiadat Nusantara khususnya di Kota Kendari.

Pj Wali Kota Kendari Muhammad Yusup didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kendari Ira Willis Kesumadoty menerima gelar bangsawan dari Kerajaan Solo.

Muhammad Yusup mendapatkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Yusup Joyodipuro. Bukan hanya Yusup, sang istri Ira Willis Kesumadoty juga meraih gelar kebangsawanan Kerajaan Solo yakni Kanjeng Mas Tumenggung Ira Willis Kesumadoty Sulistyaningtyas. Gelar kebangsawanan ini diberikan langsung oleh Raja Surakarta, Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIII.

Pj Wali Kota Kendari, Muhammad Yusup menyambut baik gelar kebangsawanan dari Kerajaan Solo. Menurutnya, menjadi bagian dari keluarga besar keraton Surakarta merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi dirinya secara pribadi dan menjadi kebanggan daerah secara umum.

Lanjut dia, pemberian gelar tersebut bukan hanya sekedar pengakuan atas dirinya, melainkan juga menjadi komitmen kerajaan solo untuk melestarikan kekayaan budaya nusantara. Yusup yakin pemberian gelar ini akan semakin mempererat hubungan antara Pemkot Kota Kendari dan Kerajaan Surakarta.

“Ini atensi yang besar dari Keraton Solo yang menjadikan saya bagian dari keluarga besarnya dengan memberikan gelar Kanjeng Raden Tumenggung. Ini adalah penghargaan yang luar biasa bagi saya dan diakui oleh dunia,” ungkap Yusup.

Atas penghargaan yang diberikan, Yusup mengajak semua pihak untuk bersama menjaga warisan budaya agar tetap lestari untuk generasi mendatang serta menggunakan kekayaan budaya nusantara sebagai landasan untuk mencapai kemajuan yang bangsa dan negara.

“Saya mengajak kepada semua pihak untuk bekerja keras memperjuangkan kepentingan dan kehormatan masyarakatnya, serta dalam menjaga dan mempromosikan nilai-nilai budaya yang kaya di tengah-tengah tantangan zaman modern ini,” pungkasnya. (wan/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.