Dukung Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan Kota Kendari Dorong Budidaya Ikan Metode Bioflog

oleh -815 Dilihat
Kadis Perikanan Kota Kendari Agus Salim Safrullah saat meninjau lokasi budidaya ikan air tawar metode Booflog di Kecamatan Poasia.

RADARKENDARI.COM, Kendari, Sulawesi Tenggara – Budidaya ikan dengan teknologi bioflok bisa menjadi bagian penting dari upaya swasembada pangan.

Bioflok memanfaatkan gumpalan (flok) yang terbentuk dari bakteri dan organisme lain untuk meningkatkan kualitas air dan menghasilkan makanan alami bagi ikan.

Ini bisa meningkatkan produksi ikan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Kepala Dinas Perikanan Kota Kendari Agus Salim Safrullah, menjelaskan guna mendukung program nasional dan program pemerintah Kota Kendari dalam memperkuat swasembada pangan dari protein hewani ikan serta menekan angka inflasi, pihaknya akan mengoptimalkan lahan-lahan pekarangan warga masyarakat untuk dapat mengembagkan usaha budidaya ikan air tawar metode terpal atau metode bioflog.

Menurut Agus, flog adalah gumpalan yang terbentuk dari berbagai organisme seperti bakteri, jamur, algae, protozoa, dan cacing.

Jadi metode Bioflog adalah sebuah proses yang menggunakan unsur-unsur tertentu (seperti molase, probiotik) untuk merangsang bakteri aerobik untuk menguraikan bahan organik dan menyerap mineral dalam air. 

Manfaatnya, adalah meningkatkan kualitas air, mendaur ulang bahan organik menjadi makanan bagi ikan, dan mengurangi biaya pakan. 

Bioflok penting untuk swasembada pangan, karena dengan sistem bioflok bisa meningkatkan produksi ikan secara signifikan, karena ikan mendapatkan makanan alami dan kualitas air yang lebih baik. 

Karena itu, peningkatan produksi ikan berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada pasokan ikan dari luar. 

Disamping itu, metode ini dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat, yaitu melalui budidaya ikan dengan bioflok dapat menjadi peluang kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat, terutama petani pembudidaya ikan.

Dari segi keberlanjutan, metode bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan kimia dan mengurangi polusi air. 

Sistem bioflok juga dapat memanfaatkan limbah organik, seperti pupuk kandang, untuk menghasilkan flok yang dapat dimakan ikan. 

Contoh penerapan Bioflog yang dapat dikembangkan di Kota Kendari, adalah budidaya ikan nila, lele dumbo, serta integrasi dengan sayuran,

Budidaya ikan dengan sistem bioflok adalah pilihan yang baik untuk memanfaatkan lahan pekarangan, karena memiliki banyak manfaat, termasuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi penggunaan air serta limbah.

Sistem ini memungkinkan budidaya ikan dengan kepadatan tinggi dan hemat air, sehingga cocok untuk lahan pekarangan yang terbatas. 

Beberapa kelebihan sistem Bioflok, adalah hemat air, dimana sistem bioflok memungkinkan pemeliharaan ikan dengan penggantian air yang lebih jarang (sekitar dua bulan sekali), sehingga lebih efisien dalam penggunaan air. 

Selanjutnya kepaatan tinggi, dimana sistem bioflok memungkinkan pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi (lebih dari 500-2500 ekor/m³), sehingga dapat meningkatkan hasil panen. 

Sistem bioflok adalah ramah lingkungan, yaitu memanfaatkan bakteri pembentuk bioflok untuk menyerap limbah nitrogen (amonia dan nitrit), sehingga kualitas air terjaga dan lebih ramah lingkungan. 

Biaya pakan metode Bioflog adalah lebih rendah, karena bakteri dalam bioflok dapat menjadi sumber pakan alami, biaya pakan ikan dapat ditekan. 

Sedang produktivitas sistem bioflok dapat meningkatkan pertumbuhan ikan dan mempercepat waktu panen, sehingga meningkatkan produktivitas budidaya. 

Pemanfaatan lahan sistem bioflok memungkinkan budidaya ikan di lahan yang terbatas, seperti pekarangan, dengan kolam terpal atau drum. 

Sistem bioflok dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui budidaya ikan yang lebih efisien dan produktif. 

Sistem bioflok dapat menjaga kualitas air kolam lebih stabil, dengan pH relatif stabil dan kandungan amoniak yang rendah. 

Editor : Agus Setiawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.